Metro Semarang
Kabar Semarang Terbaru Hari Ini

Curhat ke AI Jadi Tren Baru, BSSN Ingatkan Risiko Privasi hingga Ketergantungan Sosial

Ilustrasi

METROSEMARANG.COM, Jakarta – Fenomena masyarakat yang mulai gemar mencurahkan isi hati atau curhat kepada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi perhatian serius Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Di tengah meningkatnya tekanan sosial dan rasa kesepian, chatbot AI disebut mulai dipandang sebagai “pendengar digital” yang selalu siap menemani pengguna kapan saja.

Melalui unggahan edukasi di akun Instagram resminya, BSSN menyoroti perubahan perilaku masyarakat yang semakin nyaman berbagi cerita pribadi kepada mesin dibandingkan manusia. Fenomena ini dinilai berkembang seiring kemajuan teknologi AI yang mampu memberikan respons cepat, konsisten, dan terkesan empatik.

BSSN menjelaskan, banyak orang memilih curhat ke AI karena merasa lebih aman dari penilaian sosial. Pengguna juga menganggap percakapan dengan AI lebih privat karena tidak khawatir menjadi bahan gosip atau mendapat stigma dari lingkungan sekitar.

Baca juga: Ancaman Siber Makin Nyata, BSSN Satukan Kekuatan CSIRT se-Indonesia

Selain itu, chatbot AI dinilai mampu memberikan jawaban yang terstruktur dan objektif saat pengguna sedang mengalami tekanan emosional. Layanan AI yang tersedia selama 24 jam juga membuat sebagian orang merasa lebih mudah mendapatkan “teman bicara” kapan pun dibutuhkan.

Namun di balik kenyamanan tersebut, BSSN mengingatkan adanya sejumlah risiko serius yang perlu diwaspadai masyarakat. Salah satu ancaman terbesar adalah potensi kebocoran data pribadi akibat riwayat percakapan yang tersimpan dalam sistem AI.

“Banyak layanan AI menyimpan percakapan pengguna untuk kebutuhan pengembangan sistem atau machine learning. Jika pengguna memasukkan data sensitif, maka informasi itu berpotensi terekam dan disalahgunakan di kemudian hari,” tulis BSSN dalam materi edukasinya melalui instagram @BSSN_ri.

Baca juga: BSSN Peringatkan Bahaya Trojan Banker, Pelaku Bisa Kuasai HP dan Kuras Rekening

Tak hanya soal privasi, ketergantungan terhadap AI juga dinilai dapat memicu isolasi sosial. Seseorang yang terlalu sering bergantung pada chatbot berisiko mengurangi interaksi nyata dengan keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar.

BSSN juga menyoroti kemungkinan munculnya jawaban menyesatkan dari AI. Sebagai program komputer, AI dinilai tidak sepenuhnya memahami konteks emosional maupun kondisi personal pengguna secara mendalam. Dalam beberapa situasi, respons AI justru bisa memperburuk kondisi psikologis seseorang.

Selain itu, kebiasaan mendapatkan respons yang selalu ramah dan “sempurna” dari AI dikhawatirkan membuat seseorang kesulitan menghadapi dinamika emosional di dunia nyata, termasuk konflik, kritik, dan perbedaan pendapat.

Baca juga: Lindungi Data Peserta, BPJS Ketenagakerjaan Gandeng BSSN Hadapi Ancaman Siber

Menyikapi tren tersebut, BSSN menegaskan bahwa AI sebaiknya hanya digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti interaksi manusia sepenuhnya. Masyarakat tetap dianjurkan menjaga komunikasi langsung dengan keluarga, sahabat, maupun tenaga profesional seperti psikolog ketika menghadapi persoalan emosional.

BSSN juga mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan membagikan informasi pribadi yang bersifat rahasia saat menggunakan chatbot AI. Selain itu, peningkatan literasi digital mengenai keamanan data, kebijakan privasi, dan etika penggunaan AI dinilai menjadi hal penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi.***

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.