Tolak Overtourism, Desa Wisata Penglipuran Bali Tegaskan Budaya dan Kelestarian Jadi Prioritas Utama

METROSEMARANG.COM, Bangli— Di tengah maraknya isu pembengkakan angka wisatawan (overtourism) yang kerap memicu permasalahan lingkungan dan sosial di berbagai destinasi kelas dunia, Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, justru mengambil langkah tegas.
Desa adat yang tersohor hingga kancah internasional ini secara konsisten memilih membatasi kuota kunjungan demi menjaga kelestarian adat dan kenyamanan lingkungan.
Pengelola Desa Wisata Penglipuran menetapkan skema pembatasan daya dukung (carrying capacity) harian.
Jika pada periode sibuk sebelumnya angka kunjungan sempat menembus lebih dari 5.000 orang per hari, kini target kuota dibatasi secara ketat di kisaran 3.000 hingga maksimal 4.000 pengunjung per hari.
Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, menegaskan bahwa orientasi utama pengembangan desa mereka bukanlah mengejar angka statistik kunjungan semata, melainkan memastikan warisan budaya dan keasrian lingkungan tetap terjaga bagi generasi mendatang.
“Pariwisata adalah bonus. Yang paling utama adalah menjaga desa ini tetap lestari karena ini adalah rumah kami,” ujar I Wayan Sumiarsa saat menjelaskan filosofi tata kelola berbasis komunitas (Community-Based Tourism) yang diterapkan di Penglipuran, Rabu 29 Juli 2026.
Prinsip ketegasan ini menjadi model percontohan pariwisata berkelanjutan (regenerative tourism) yang kini banyak dipelajari oleh berbagai daerah di Indonesia, termasuk jajaran pengelola destinasi wisata di Jawa Tengah dan Semarang yang kerap melakukan studi komparasi tata kelola desa adat.
Pelaksanaan Penglipuran Village Festival XIII
Dalam upaya memperkuat pariwisata berbasis pengalaman budaya (experience-based tourism), lanjut Wayan Sumiarsa, Desa Penglipuran juga telah menggelar Penglipuran Village Festival XIII dengan mengusung tema “Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan, dan Regeneratif”.
Berbeda dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, puncak festival kali ini dipusatkan di Lapangan Tugu Pahlawan (sisi selatan desa).
Pemindahan lokasi ini dilakukan secara khusus untuk menghormati nilai sejarah perjuangan pahlawan lokal, Kapten TNI A.A. Gede Anom Mudita.
Festival ini menyuguhkan berbagai atraksi budaya seperti parade Peed Aya, tarian kolosal, pameran UMKM lokal, hingga paket edukasi budaya berbasis masyarakat.
Transparansi Pengelolaan & Distribusi Ekonomi Warga
Secara tata kelola finansial, transparansi menjadi kunci keberhasilan Penglipuran. Pendapatan dari retribusi tiket masuk—yang diproyeksikan mencapai Rp26 miliar—seluruhnya disetorkan 100 persen ke Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli.
Pemda kemudian mengembalikan 60 persen dari total dana tersebut sebagai dana bagi hasil untuk operasional, perawatan fasilitas, serta pemeliharaan adat desa.
Dampak ekonomi berbasis warga ini dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Sebanyak lebih dari 131 warga lokal terlibat aktif dalam rantai operasional pariwisata, mulai dari pemandu wisata, pengerajin cinderamata, hingga pelaku usaha kuliner khas seperti minuman tradisional loloh cemcem.
Informasi Operasional & Tarif Tiket Masuk Terbaru
| Kategori Wisatawan | Tarif Tiket Dewasa | Tarif Tiket Anak-Anak |
| Wisatawan Nusantara (Domestik) | Rp25.000 | Rp15.000 |
| Wisatawan Mancanegara (Mancanegara) | Rp50.000 | Rp30.000 |
-
Kapasitas Kunjungan Ideal: 2.000 – 3.000 wisatawan/hari (Maksimal 4.000 pada high season).
Langkah progresif Desa Penglipuran dalam membendung overtourism membuktikan bahwa tata kelola pariwisata yang berpijak pada kearifan lokal dan keberlanjutan tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi yang stabil dan adil bagi warga setempat.***