Metro Semarang
Kabar Semarang Terbaru Hari Ini

Gus Rozin dan Kepemimpinan Empatik

Ditulis Oleh : Mohammad Fahsin Pengasuh PP. Kyai Gading Mranggen Demak

Sosok Gus Rozin sebagai figur yang kini memimpin PWNU Jawa Tengah sekaligus tokoh kunci dalam dinamika jam’iyah/dok

METROSEMARANG.COM, Semarang – Pemimpin yang baik adalah pemimpin memiliki keberanian dan kerendahan hati untuk mendengar.

Kemampuan “mendengar” nyatanya bukan hal mudah, tidak dimiliki oleh setiap pemimpin, terutama pada kultur kepemimpinan otoriter. “Mendengar” di sini tidak hanya mendengar mereka yang “di atas” tapi juga yang “di bawah”, tidak hanya mendengar pujian tapi juga masukan dan kritik yang kadang terdengar pedas.

Kemauan mendengar selaras dengan kemauan untuk melapangkan dada dan meluaskan pandang.

Dalam konteks organisasi, menjadi pemimpin yang berkarakter “top down” tentu bukan pilihan yang baik dan bijak. Kepemimpinan yang absolut serupa itu sekilas mungkin menjadikan organisasi tampak stabil, namun di tingkat akar rumput akan menimpulkan letupan-letupan, yang jika tidak dimitigasi dengan baik justru akan menjadi bom waktu.

Di sinilah pentingnya kepemimpinan yang empatik, yang menampilkan pemimpin yang mau mendengar.

Untuk membayangkan bagaimana kepemimpinan empatik ini bekerja, kita dapat membedah rekam jejak sosok Gus Rozin.

Sebagai figur yang kini memimpin PWNU Jawa Tengah sekaligus tokoh kunci dalam dinamika jam’iyah, Gus Rozin menunjukkan konsistensi yang menarik melalui mobilitasnya menyapa daerah-daerah.

Menariknya, bukan hanya wilayah Jawa yang dikunjungi Gus Rozin, namun juga daerah-daerah di luar Jawa. Kunjungan ini dapat dimaknai sebagai bentuk silaturahmi yang memang telah mengakar di NU, namun lebih dari itu menunjukkan kemampuan mendengar seorang pemimpin.

Langkah Gus Rozin menjelajahi berbagai wilayah, mulai dari Bengkulu, Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, hingga Sulawesi, mengingatkan kita pada salah satu bagian dari buku Stephen Covey yang betajuk The 7 Habits of Highly Effective People.

Pada buku tersebut disebukan bahwa ciri pemimpin yang baik adalah “seek first to understand, then to be understood.” Ringkasnya, pemimpin harus mau mengerti orang lain, jangan hanya ingin dimengerti. Pemimpin yang otentik memiliki ciri selalu membuka ruang dialog melalui empathic listening.

Covey mengingatkan bahaya seorang pemimpin yang mengidap kecenderungan prescribe before diagnose, memberi resep dan menawarkan solusi sebelum benar-benar memahami masalahnya.

Sedangkan dalam pandangan Otto Scharmer dalam Theory U, tingkat mendengar tertinggi (generative listening) terjadi ketika seorang pemimpin hadir di tengah warganya untuk mencari solusi dari realitas yang ia serap langsung di lapangan.

Sekali lagi, tidak semua pemimpin memiliki kemampuan ini. Padahal inilah yang NU butuhkan di masa mendatang, ketika tantangan zaman yang kita hadapi semakin kompleks.

Dengan mendatangi langsung daerah-daerah bahkan hingga luar Jawa, Gus Rozin menunjukkan bahwa solusi untuk NU tidak dibangun dari balik meja, melainkan dirajut dari suara-suara di pinggiran.

NU ke depan membutuhkan kepemimpinan partisipatif yang berbasis partisipasi aktif dan empati mendalam, di mana mendengar diletakkan sebagai langkah awal sebelum merumuskan arah dan kebijakan.

Gus Rozin yang berlatar belakang pesantren sekaligus berpengalaman mengelola lembaga pendidikan telah berhasil memadukan antara karakter kiai (rendah hati) dan manajemen modern (user-centered design/agile leadership).

Gus Rozin membangun apa yang disebut Covey sebagai emotional bank account (rekening kepercayaan) antara pengurus dan warga nahdliyin.

Tidak berlebihan jika dikatakan, melihat sosok Gus Rozin adalah melihat sosok pemimpin PBNU masa depan.***

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.