Metro Semarang
Kabar Semarang Terbaru Hari Ini

Fakta di Balik Bahayanya Tanjakan Silayur, Pemkot Semarang Fokus Perkuat Keselamatan

Jalur Silayur di wilayah Ngaliyan, Kota Semarang, kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Semarang menyusul tingginya risiko kecelakaan di kawasan tersebut/dok

METROSEMARANG.COM, Semarang – Jalur Silayur di wilayah Ngaliyan, Kota Semarang, kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Semarang menyusul tingginya risiko kecelakaan di kawasan tersebut.

Jalur yang dikenal curam dan padat kendaraan itu kini mulai diperkuat dengan berbagai langkah pengendalian keselamatan, khususnya untuk kendaraan berat.

Tanjakan yang berada di ruas Prof. Hamka–Moch. Ichsan tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu jalur ekstrem di Semarang Barat. Selain menjadi penghubung penting jalur Pantura, kawasan itu juga menjadi akses utama menuju permukiman dan kawasan industri.

Berdasarkan data teknis, jalur Silayur memiliki panjang sekitar 649 meter dengan tingkat kemiringan mencapai 13,2 persen. Kondisi itu dinilai cukup berbahaya, terutama bagi kendaraan bertonase besar.

Baca juga: Pengamat Soroti Silayur: Dari Desain Lama ke Pendekatan Keselamatan Modern

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengatakan karakteristik jalan yang panjang dan curam membutuhkan perhatian khusus karena berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas.

“Tanjakan ini memiliki karakteristik jalan yang ekstrem. Elevasi yang panjang dan curam membutuhkan perhatian khusus, terutama bagi kendaraan berat,” ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan kecelakaan di kawasan Silayur kerap berulang. Salah satunya adalah kendaraan over-tonase yang memaksa melintas meski melebihi kapasitas muatan.

Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko gagal rem maupun penurunan performa kendaraan saat menanjak atau menurun di jalur curam.

Baca juga: Bukan Sekadar Pameran, UMKM Grande 2026 Jadi Senjata BI Jateng Dorong UMKM Mendunia

Selain itu, pertumbuhan kawasan permukiman dan industri di wilayah Ngaliyan dan sekitarnya juga memicu lonjakan volume kendaraan setiap hari. Arus lalu lintas yang semakin padat membuat risiko kecelakaan semakin tinggi, terutama pada jam sibuk.

Pemkot Semarang juga mengakui masih terdapat keterbatasan ruang jalan di beberapa titik akibat proses pembebasan lahan yang belum sepenuhnya selesai.

Sebagai langkah penanganan, Pemkot Semarang mulai menerapkan sejumlah upaya pengamanan di kawasan Silayur. Di antaranya pemasangan portal pembatas kendaraan, penambahan pita kejut atau rumble strip, penebalan marka jalan, hingga pemasangan rambu lalu lintas tambahan.

Tak hanya itu, sejumlah titik putar balik atau u-turn yang dinilai mengganggu kelancaran arus kendaraan juga mulai ditutup, termasuk di kawasan depan RS Permata Medika hingga Citadel Square.

Pemerintah juga menyiapkan posko pengawasan portabel untuk memantau operasional kendaraan logistik dan truk secara langsung, terutama pada jam-jam tertentu.

Agustina menegaskan penanganan jalur Silayur tidak bisa dilakukan secara instan karena berkaitan dengan kondisi topografi dan aktivitas logistik yang tinggi. Namun demikian, keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.

“Penanganan Silayur memang tidak bisa instan karena menyangkut topografi dan aktivitas logistik. Tetapi keselamatan masyarakat adalah prioritas yang tidak bisa ditawar,” tegasnya.

Baca juga: Wali Kota Agustina Tinjau Longsor Kalialang, Pastikan Warga Aman dan Kebutuhan Terpenuhi

Pemkot Semarang pun mengimbau para pengguna jalan agar memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima sebelum melintasi jalur Silayur, terutama bagi kendaraan berat dan angkutan logistik.***

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.