Ironi Jalanan: 98% Remaja SMP Mahir Berkendara, Nol Pengetahuan Keselamatan

METROSEMARANG.COM, Semarang — Jalanan kita menyimpan ironi yang mencolok: remaja SMP pandai mengendarai motor, tapi buta soal keselamatan.
Fenomena ini terkuak dalam kegiatan edukasi keselamatan berkendara yang digelar di SMP Al Musafa, Kabupaten Kendal, baru-baru ini yang dilakukan tim safety riding Astra Motor Jawa Tegah.
Dalam sesi interaktif, para siswa ditanya, “Siapa yang bisa naik motor?” Jawabannya mengejutkan—98 persen siswa mengangkat tangan. Namun, ketika pertanyaan bergeser ke seputar keselamatan—“Siapa yang tahu teknik berkendara yang benar? Siapa yang paham aturan lalu lintas atau selalu memakai helm?”—nyaris tak ada yang menjawab.
Inilah cerminan realitas sekaligus ironi. Anak-anak usia SMP sudah aktif menggunakan sepeda motor, namun minim pengetahuan dasar keselamatan berkendara. Lebih parah, mereka melakukannya tanpa perlengkapan wajib seperti helm, dan tanpa pemahaman cara mengerem atau menikung dengan aman.
Menurut Suko Edi, Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, realita ini merupakan tamparan keras terhadap sistem edukasi keselamatan yang berlaku saat ini.
“Banyak sekolah menolak program pelatihan safety riding karena menganggap siswa mereka belum layak naik motor. Tapi faktanya, mereka sudah berkendara tiap hari ke sekolah,” ujar Suko.
Ia menegaskan, pendekatan seperti ini justru berisiko. Ketika fakta di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas siswa sudah aktif berkendara, menolak edukasi hanya karena alasan legalitas usia bukanlah solusi.
Memberikan pelatihan keselamatan bukan berarti membenarkan pelanggaran hukum. Sebaliknya, ini adalah upaya mitigasi risiko yang harus segera dilakukan.
“Mengajarkan anak-anak cara menjaga keseimbangan, teknik pengereman yang benar, atau mengenali bahaya di jalan bukan berarti kita membiarkan mereka melanggar aturan,” jelas Suko.
Menurutnya, pelatihan ini justru bisa menyelamatkan nyawa. Anak-anak jadi tahu cara bereaksi saat menghadapi situasi darurat. Mereka dibekali pemahaman bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar urusan hukum.
Menutup mata terhadap fakta di lapangan justru membuat remaja semakin rentan menjadi korban kecelakaan. Keselamatan tidak bisa menunggu usia cukup untuk SIM, karena kenyataannya, mereka sudah ada di jalan.
“Nyawa anak-anak terlalu berharga untuk diabaikan. Lebih baik kita bekali mereka sejak dini daripada menyesal kemudian,” tambah Suko.
Penting bagi sekolah, orang tua, dan institusi keselamatan seperti Astra Honda Motor untuk saling bersinergi. Jangan sampai idealime aturan justru menghalangi edukasi yang esensial. Edukasi keselamatan harus dimulai sejak dini, bahkan sebelum mereka resmi menjadi pengguna jalan yang sah.
Keselamatan jalan bukan hanya soal menegakkan hukum, tapi juga soal kesadaran, pendidikan, dan empati. Jika kita ingin menciptakan generasi pengendara yang aman dan bertanggung jawab, maka membekali mereka dengan ilmu safety riding sejak usia dini adalah langkah paling logis dan manusiawi.***