Metro Semarang
Kabar Semarang Terbaru Hari Ini

Dari Jalan Kaki ke Teknologi Enkripsi, Kepala BSSN Ajak Generasi Muda Teladani Perjuangan Persandian

Kepala BSSN, Nugroho Sulistyo Budi melepas taruna taruni Politeknik Sandi dan Siber Negara (PoltekSSN), untuk melakukan napaktilas persandian, di kawasan bersejarah Rumah Sandi Dukuh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa 31 Maret 2026/metrosemarang

METROSEMARANG.COM, Kulon Progo– Memasuki usia ke-80, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggelar kegiatan napak tilas persandian, di kawasan bersejarah Rumah Sandi Dukuh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa 31 Maret 2026.

Napak Tilas Persandian sekaligus menjadi upaya literasi publik terkait keamanan siber dan pentingnya pelestarian situs bersejarah sebagai warisan bangsa yang memiliki nilai strategis bagi generasi mendatang.

Kegiatan diawali dengan upacara di Lapangan Dekso yang dipimpin langsung oleh Kepala BSSN, Nugroho Sulistyo Budi. Mengusung tema “Jejak Sandi, Pilar Siber Mengabdi untuk Negeri”, acara ini menegaskan pentingnya peran persandian dalam menjaga kedaulatan informasi negara.

Napak tilas ini diikuti oleh jajaran pimpinan BSSN, taruna Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN), perwakilan Forum Komunikasi Sandi Daerah (Forkomsanda) DIY, unsur pemerintah daerah, hingga awak media.

Para peserta menelusuri jalur historis yang dahulu digunakan kurir untuk mengirimkan pesan rahasia pada masa perjuangan kemerdekaan. Rute yang melintasi perbukitan dan area pertanian tersebut menggambarkan tantangan besar dalam menjaga kerahasiaan informasi sebelum hadirnya teknologi komunikasi modern.

Kepala BSSN Nugroho Sulistya Budi menyampaikan bahwa sejarah menjadi fondasi penting bagi generasi penerus. Ia mengingatkan pesan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, tentang “Jas Merah” atau jangan sekali-kali melupakan sejarah.

“Kegiatan ini bukan sekadar menelusuri rute perjuangan, tetapi juga menghayati dedikasi, semangat juang, dan pengorbanan para pendahulu,” ujarnya saat memimpin upacara.

Ia menggambarkan beratnya perjuangan para perintis persandian sekitar 80 tahun lalu. Saat itu, mereka harus berjalan kaki melintasi hutan, menyeberangi sungai, bahkan memanggul sepeda di tengah berbagai risiko, termasuk ancaman terhadap keselamatan jiwa. Kondisi tersebut jauh berbeda dengan saat ini, namun nilai-nilai perjuangan tetap relevan.

Menurutnya, peran persandian sangat krusial dalam sejarah global maupun nasional. Ia mencontohkan, pada Perang Dunia II, terbongkarnya sistem sandi Jerman menjadi faktor penting yang memengaruhi jalannya perang. Sementara di Indonesia, pada 1946, persandian berperan vital dalam menjaga komunikasi rahasia pemerintah saat masa mempertahankan kemerdekaan.

Seiring perkembangan teknologi, tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks. Jika dahulu pesan sandi ditulis secara manual, kini pengamanan informasi dilakukan melalui teknologi canggih seperti algoritma dan sistem enkripsi, dengan media komunikasi yang beragam, mulai dari jaringan serat optik hingga platform digital.

“Ancaman terhadap informasi kini tidak hanya berupa penyadapan, tetapi juga pencurian data, manipulasi, hingga perusakan sistem,” jelasnya.

Dalam konteks global, dinamika geopolitik turut mempertegas pentingnya keamanan komunikasi, baik untuk kepentingan militer, ekonomi, maupun sektor strategis lainnya.

Sebagai lembaga yang bertanggung jawab di bidang keamanan siber dan persandian, BSSN memiliki mandat untuk memastikan kerahasiaan, keaslian, dan integritas data serta informasi negara.

Melalui kegiatan ini, Nugroho Sulistya Budi berharap napak tilas tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi mampu memperkuat komitmen seluruh insan persandian dalam menjalankan tugas.

“Kami ingin kegiatan ini menjadi pengingat sekaligus pemicu semangat agar nilai pengabdian para perintis tetap hidup dalam menghadapi tantangan masa kini,” pungkasnya.***

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.