Metro Semarang
Kabar Semarang Terbaru Hari Ini

Menghidupkan Warisan Diponegoro: Bank Indonesia Jateng Bedah Buku “1830” Bersama Peter Carey

Menghidupkan Warisan Diponegoro: Bank Indonesia Jateng Bedah Buku “1830” Bersama Peter Carey/metrosemarang

METROSEMARANG.COM, Semarang,  – Pangeran Diponegoro kembali menjadi pusat perhatian dalam forum literasi yang digelar Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah.

Melalui Serial Bedah Buku edisi kedua bertema “Refleksi Tiga Jalan (Sejarah, Sains, dan Filsafat) Menuju Bangsa Beradab”, kisah perjuangan Sang Pangeran diangkat kembali lewat buku 1830 karya Melissa Sunjaya dan sejarawan terkemuka Prof. Peter Carey.

Bertempat di Kopi Nako, Semarang, Selasa 26 Agustus 2025, acara ini menghadirkan Peter Carey sebagai narasumber utama.

Carey, yang dikenal luas sebagai pakar Pangeran Diponegoro dan Emeritus Fellow Trinity College, Oxford, membawakan refleksi berjudul “Back to the Future: Reflections on the Java War (1825–1830) and the Life of Prince Diponegoro”.

Diponegoro: Integritas, Keberanian, dan Keteguhan

Dalam paparannya, Carey menggambarkan Pangeran Diponegoro bukan sekadar tokoh sejarah yang memimpin Perang Jawa, melainkan teladan moral bagi generasi bangsa.“Diponegoro menunjukkan kepada kita bahwa sejarah bukan hanya tentang kemenangan, tetapi tentang keberanian menjalani takdir, menjaga martabat, dan meninggalkan teladan bagi generasi mendatang,” ungkap Carey.

Menurut Carey, warisan utama Diponegoro adalah integritas, pengorbanan, dan keberanian menegakkan kebenaran meskipun harus berakhir dengan penderitaan dan pengasingan.

Karakter tegas dan kejujuran Pangeran Diponegoro menjadi cermin penting di tengah zaman yang penuh polarisasi dan krisis moral.

Buku 1830 sendiri menghadirkan sembilan “pisau bedah” yang mengajak pembaca untuk meninjau kembali warisan kolonial serta dampaknya pada cara bangsa Indonesia memandang dirinya hingga saat ini.

Bagi Melissa Sunjaya dan Peter Carey, sejarah tidak berhenti sebagai arsip, melainkan sebagai cermin untuk memahami tantangan modern, mulai dari digitalisasi hingga perpecahan sosial.

Literasi Sejarah untuk Indonesia Emas 2045

Sementara itu Rahmat Dwisaputra, Kepala Perwakilan BI Jateng, menekankan pentingnya kesadaran sejarah dalam membangun masa depan.

“Transformasi menuju Indonesia Emas 2045 hanya mungkin dicapai apabila manusia Indonesia sadar sejarah, matang secara spiritual, dan kritis secara intelektual,” ujarnya.

Lebih dari 200 peserta hadir langsung, mulai dari pejabat, akademisi, komunitas literasi, hingga pelajar, sementara ribuan lainnya mengikuti lewat kanal YouTube BI Jateng. Diskusi dipandu moderator Sumi Yang dan berlangsung hangat, menyatukan generasi muda dengan para pakar sejarah.

Serial Bedah Buku BI Jateng tidak berhenti di sini. Setelah sejarah dan sains, seri ketiga akan mengupas jalan filsafat—membahas bagaimana nilai, arah hidup, dan kebijaksanaan dapat menjadi pijakan bangsa dalam menapaki peradaban berkelanjutan.

Dengan menghadirkan kembali kisah Pangeran Diponegoro lewat refleksi Peter Carey, forum ini bukan hanya merayakan sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali nilai perjuangan dan moralitas yang relevan untuk menjawab tantangan zaman.

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.