Rupiah Tresno Budoyo 2025: Sinergi Budaya & Ekonomi Digital Dorong UMKM Naik Kelas

METROSEMARANG.COM, Semarang, — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jawa Tengah menggelar “Rupiah Tresno Budoyo 2025” sebagai bagian dari rangkaian Festival Ekonomi Keuangan Digital (FEKD) 2025, Radjawali Cultural Center, Sabtu 1 November 2025.
Gelaran ini menghadirkan kolaborasi budaya, ekonomi, dan digitalisasi layanan keuangan, dengan fokus pemberdayaan UMKM agar naik kelas melalui identitas budaya serta transformasi digital.
Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah, Rahmad Dwisaputro, menegaskan bahwa budaya tidak hanya menjadi warisan tetapi juga energi penggerak ekonomi modern.
“Kegiatan perekonomian itu adalah hasil dari budaya. Dan budaya bila kita lestarikan justru bisa menggerakkan ekonomi. Inilah yang ingin kami hidupkan melalui Rupiah Tresno Budoyo,” ujarnya, Sabtu 1 November 2025.
Tahun ini, tema Rupiah Tresno Budoyo selaras dengan peringatan 200 tahun Kiprah Pangeran Diponegoro (1825–2025).
Nilai perjuangan Sang Pangeran diterjemahkan dalam konteks perdagangan masa kini yang berkeadilan.
“Beliau sangat terbuka dengan pedagang asing, termasuk Eropa. Tapi Diponegoro menolak monopoli dan eksploitasi manusia. Semangat perdagangan adil ini kami bawa untuk memperkuat ekonomi kerakyatan,” jelas Rahmad.
BI juga mendorong UMKM untuk bertransformasi melalui literasi keuangan, pemanfaatan pembayaran digital, dan inovasi produk.
“UMKM harus kita berdayakan, bukan ditipudayakan. Mereka perlu naik kelas melalui literasi keuangan, digital marketing, dan inovasi tanpa meninggalkan budaya,” tegasnya.
Rangkaian acara Rupiah Tresno Budoyo 2025 menghadirkan talkshow yang menjadi magnet perhatian peserta. Pada sesi pertama, digelar talkshow “EmpowerHER: Wanita UMKM Menjaga Tradisi Mengikuti Digitalisasi”, menghadirkan CEO Office Seabank Stefanny Christiana Tam dan fotografer produk Ani Yuliani. Sesi ini mengupas peran perempuan UMKM dalam menjaga identitas budaya produk sekaligus adaptif terhadap digitalisasi.
Memasuki sesi kedua, suasana auditorium semakin hidup dengan Dialog Budaya bertema “Warisan Lestari: Menguatkan Tradisi di Tengah Transformasi”. Hadir sebagai narasumber Kepala BI Jateng Rahmad Dwisaputro, maestro seni kontemporer Prof. Sardono W. Kusumo, serta aktris dan pendiri Yayasan Titimangsa Happy Salma.
Di tempay yang sama Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mengapresiasi langkah BI yang menghadirkan sinergi budaya dan digitalisasi bagi kemajuan ekonomi masyarakat.
“Kita tidak boleh terpaku pada masa lalu, tetapi nilai budaya harus terus hidup. Budaya baru yang sedang kita tumbuhkan adalah cashless. Ini penting terutama bagi pelaku UMKM dan pedagang agar transaksi lebih aman dan tercatat,” jelasnya.
Pemkot Semarang mendorong aktivitas masyarakat di ruang publik sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal. Interaksi sosial dinilai mampu menciptakan transaksi dan menjaga keamanan lingkungan.***