BSSN Bongkar Fakta Mengejutkan: 140 Ancaman Siber Per Detik, Human Eror Jadi Musuh Terbesar

METROSEMARANG.COM, NTB – Ancaman serangan siber di Indonesia terus meningkat dengan skala sangat mengkhawatirkan. Fenomena ini pun memicu perhatian serius Badan Sandi dan Siber Negara (BSSN).
BSSN mencatat lonjakan drastis serangan siber mencapai 5,5 miliar kasus sepanjang 2025. Data ini menjadi alarm besar bagi bangsa.
Kepala Badan Siber dan Sandi Negara, Nugroho Sulistyo Budi, menegaskan bahwa serangan siber kini menjadi ancaman nyata yang mengintai setiap sektor digital.
Pada tahun 2020, anomali siber hanya berada di kisaran 400 juta saja. Lonjakan ke angka 5,5 miliar pada 2025 menunjukkan eskalasi yang sangat tidak terduga.
Bahkan hingga pertengahan 2026, tercatat lebih dari 2,1 miliar anomali. Ini setara dengan sekitar 148 ancaman yang masuk ke sistem setiap detiknya saja.
Nugroho menjelaskan bahwa ancaman tersebut berkembang sangat cepat dan makin kompleks. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam ketahanan data.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum penguatan keamanan siber di Universitas Mataram. Langkah preventif harus dilakukan secara masif dan terpadu.
“Menghadapi situasi eskalasi serangan ini, kami sangat mendorong Provinsi NTB untuk segera membentuk Forum Komunikasi Keamanan Siber dan Sandi Daerah (Forkomsanda) guna memperkuat koordinasi, pertukaran informasi tanggap darurat, dan ketahanan ekosistem siber secara menyeluruh demi mewujudkan ruang siber yang nyaman karena aman,” jelas Nugroho saat menyampaikan paparan terkait lonjakan ancaman siber dalam forum keamanan digital di Universitas Mataram. Selasa (23/6/2026).
Human Error Jadi Musuh Terbesar
BSSN menilai bahwa musuh terbesar saat ini bukan sekadar peretas. Kelalaian manusia atau human error menjadi celah keamanan paling berbahaya.
Kesalahan sederhana seperti kata sandi yang lemah seringkali memicu kebocoran. Selain itu, penggunaan email kedinasan untuk hal pribadi sangat berisiko.
Malware serta penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) untuk praktik phishing kini jadi ancaman baru. Hal ini menuntut kesadaran pengguna yang lebih tinggi.
Keamanan siber bukan hanya soal teknologi, melainkan budaya. Teknologi secanggih apa pun tidak akan efektif jika pengguna masih abai terhadap keamanan.
Membangun kesadaran digital harus jadi aktivitas sehari-hari bagi masyarakat. Pemerintah daerah dan instansi terkait harus terus meningkatkan literasi.
UNRAM Siap Jadi Pusat Talenta Keamanan Siber
BSSN menggandeng Universitas Mataram untuk tingkatkan kompetensi digital. Perguruan tinggi dinilai punya peran strategis mencetak talenta siber nasional.
Rektor UNRAM, Sukardi, menyambut baik kolaborasi tersebut. Kerja sama ini membuka peluang bagi dosen dan mahasiswa untuk melakukan riset keamanan data.
“Kami yakin kerja sama ini berdampak besar bagi SDM masa depan, ujar Sukardi. Pelatihan intensif akan dilakukan agar mahasiswa siap menghadapi serangan,” katanya.
BSSN juga mendorong pembentukan Forum Komunikasi Keamanan Siber dan Sandi Daerah. Wadah ini akan koordinasikan pemerintah hingga sektor swasta di daerah.
Registrasi Tim Tanggap Insiden Siber telah diberikan ke berbagai institusi di NTB. Hal ini demi memperkuat kesiapsiagaan menghadapi serangan siber nyata.
Lonjakan serangan siber yang mencapai miliaran kasus adalah tantangan nyata. Pemerintah pusat terus mengimbau agar literasi digital warga ditingkatkan.
Perlindungan data pribadi serta keamanan sistem pemerintah harus jadi prioritas. Dengan langkah kolaboratif, risiko ancaman siber dapat segera ditekan.
Transformasi digital, transaksi ekonomi, hingga pendidikan kini butuh keamanan. Sinergi antara Badan Siber dan Sandi Negara dan elemen publik sangatlah vital.
Kolaborasi antara BSSN, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci sukses. Pastikan transformasi digital berjalan aman serta mampu menjaga kepercayaan publik.***