Metro Semarang
Kabar Semarang Terbaru Hari Ini

Mercy Corps Indonesia Dorong Ketahanan Iklim dan Keadilan Ekologis dalam Rembug Tata Ruang Warga Jateng

Mercy Corps Indonesia Dorong Ketahanan Iklim dan Keadilan Ekologis dalam Rembug Tata Ruang Warga Jateng/ist

METROSEMARANG.COM, Semarang – Tantangan penataan ruang Jawa Tengah kian kompleks seiring meningkatnya dampak perubahan iklim, dinamika sosial, dan laju pembangunan wilayah.

Kondisi ini menjadi fokus pembahasan dalam Rembug Tata Ruang Warga Jateng: Kolaborasi Profesional untuk Jawa Tengah yang digelar pada 19–20 Desember 2025 di Hotel Khas Semarang.

Forum lintas pemangku kepentingan ini mempertemukan praktisi, pemerintah, organisasi non-pemerintah (NGO), akademisi, sektor swasta, mahasiswa, hingga masyarakat sipil.

Kehadiran beragam aktor tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong perencanaan wilayah yang adaptif, inklusif, dan berkeadilan di Jawa Tengah.

Dalam forum ini, Mercy Corps Indonesia (MCI) hadir sebagai salah satu NGO yang aktif berkontribusi dalam kajian, advokasi kebijakan, dan implementasi program di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah melalui Program Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA).

Sejak 2019, MCI–ZCRA secara konsisten memperkuat ketahanan iklim berbasis bukti ilmiah, advokasi kebijakan, serta intervensi langsung di tingkat komunitas, khususnya di Kabupaten dan Kota Pekalongan.

Mercy Corps Indonesia (MCI) hadir sebagai salah satu NGO yang aktif berkontribusi dalam kajian, advokasi kebijakan, dan implementasi program di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah melalui Program Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA)/ist

Perwakilan MCI terlibat sebagai narasumber dalam sejumlah panel diskusi utama. Jayus, ZCRA System Information and Engagement Officer, dalam panel Ketahanan Iklim Wilayah Pesisir dan Sungai, menyoroti persoalan Genangan Pesisir Permanen (GPP) yang hingga kini belum masuk dalam nomenklatur bencana nasional.

“Genangan Pesisir Permanen di Jawa Tengah tidak bisa ditangani secara parsial berdasarkan batas administrasi. Diperlukan integrasi perencanaan pembangunan pesisir yang terpadu, baik secara spasial tata ruang maupun kebijakan lintas wilayah, terutama pada kawasan yang berada dalam satu kesatuan DAS dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

Sementara itu, isu keadilan ekologis menjadi sorotan dalam panel Hak Atas Tanah dan Keadilan Ekologis yang diisi oleh Mifta Alim, ZCRA Advocacy and Government Relations Officer.

Ia menekankan bahwa dinamika fisik pesisir akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia kerap memicu konflik tenurial, khususnya terkait tanah timbul dan tanah musnah.

“Prinsip keadilan ekologis belum sepenuhnya terwujud. Masih terlihat lemahnya perlindungan lingkungan, keadilan sosial atas ruang hidup masyarakat, serta keadilan bagi generasi mendatang. Dalam banyak kasus, masyarakat justru menanggung dampak pembangunan secara tidak proporsional tanpa merasakan manfaat yang adil,” jelasnya.

Dari perspektif sosial dan inklusivitas, Dhea, ZCRA Knowledge Management Officer, memaparkan temuan kajian Climate Risk and Impact Assessment (CRIA) dan Analisis GESI DAS Kupang tahun 2020 dan 2024 dalam panel Gender, Kemiskinan, dan Ketangguhan Masyarakat dalam Menghadapi Bencana.

Ia mengungkapkan adanya peningkatan kerentanan kelompok tertentu akibat GPP di wilayah Pekalongan Raya, terutama rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan.

“Kerentanan tersebut tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga memicu gangguan relasi domestik. Padahal, perempuan pesisir memiliki kesadaran yang tinggi terhadap risiko perubahan iklim. Tantangan utamanya adalah keterbatasan akses terhadap perlindungan sosial dan pemulihan pascabencana,” katanya.

Karena itu, intervensi MCI difokuskan pada pemulihan mata pencaharian dan pemberdayaan ekonomi perempuan pesisir.

Melalui rangkaian diskusi ini, Mercy Corps Indonesia menegaskan bahwa isu perubahan iklim dan kebencanaan berkaitan erat dengan berbagai sektor, mulai dari tata ruang, lingkungan, sosial, ekonomi, hingga keadilan gender.

Rembug Tata Ruang Warga Jateng dinilai menjadi ruang strategis untuk menyampaikan temuan lapangan sekaligus mendorong kesadaran publik dan pembuat kebijakan agar risiko iklim yang sudah terjadi dapat diantisipasi secara lebih sistematis.

Dalam pelaksanaannya, Program ZCRA Mercy Corps Indonesia juga memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Bappeda Provinsi Jawa Tengah serta organisasi perangkat daerah (OPD) di Kota dan Kabupaten Pekalongan. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam mendorong advokasi kebijakan dan perencanaan pembangunan yang lebih adaptif terhadap risiko iklim.

Mercy Corps Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif memperkuat ketahanan iklim di Jawa Tengah melalui pendekatan kolaboratif, berbasis bukti ilmiah, dan berpihak pada kelompok paling rentan.

Melalui Program ZCRA, MCI berupaya menjembatani kerja pengetahuan, advokasi kebijakan, dan praktik lapangan agar perencanaan pembangunan dan penataan ruang di Jawa Tengah semakin adaptif, inklusif, dan berkeadilan.***

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.