Metro Semarang
Kabar Semarang Terbaru Hari Ini

KSEI Perkuat Literasi Pasar Modal di Semarang, Investor Jawa Tengah Tembus 3,19 Juta Didominasi Generasi Muda

KSEI Perkuat Literasi Pasar Modal di Semarang, Investor Jawa Tengah Tembus 3,19 Juta Didominasi Generasi Muda/ist

METROSEMARANG.COM, Semarang – PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terus memperkuat literasi dan inklusi pasar modal melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi yang digelar di Kota Semarang.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap investasi yang aman sekaligus memperkenalkan berbagai inovasi layanan digital di industri pasar modal Indonesia.

Sosialisasi tersebut diselenggarakan KSEI bekerja sama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI).

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) untuk mendorong pertumbuhan jumlah investor sekaligus meningkatkan kualitas literasi keuangan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, KSEI mengungkapkan Jawa Tengah kini menjadi salah satu pusat pertumbuhan investor pasar modal nasional.

Hingga 30 Juni 2026, jumlah investor di provinsi ini telah mencapai 3,19 juta Single Investor Identification (SID) atau menempati peringkat keempat terbesar di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, Kota Semarang menjadi penyumbang investor terbanyak di Jawa Tengah dengan total 198.180 investor atau sekitar 6,21 persen dari keseluruhan investor di provinsi ini.

Sementara secara nasional, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 28,96 juta SID hingga akhir Juni 2026.

Angka tersebut meningkat sekitar 42,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi di pasar modal.

Kepala Unit Edukasi Layanan Jasa Investor KSEI, Abdul Azis Albakkar, mengatakan pertumbuhan investor di Jawa Tengah didorong oleh semakin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berinvestasi sejak usia muda.

Menurut Azis, komposisi investor di Jawa Tengah saat ini didominasi kelompok usia produktif.

“Investor pasar modal di Jawa Tengah didominasi oleh investor muda berusia kurang dari 30 tahun dan kelompok usia 31 hingga 40 tahun dengan total mencapai 82,97 persen. Sedangkan berdasarkan pekerjaan, investor didominasi oleh profesi karyawan sebesar 48,95 persen,” ujarnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa pasar modal kini tidak lagi hanya diminati kalangan profesional atau pelaku usaha, tetapi juga semakin akrab dengan generasi muda yang mulai menjadikan investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.

Kondisi tersebut juga sejalan dengan meningkatnya aktivitas edukasi pasar modal di berbagai perguruan tinggi, sekolah, komunitas, hingga Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia yang tersebar di berbagai daerah, termasuk Kota Semarang.

Melalui berbagai program edukasi tersebut, masyarakat memperoleh pemahaman mengenai manfaat investasi, manajemen risiko, hingga pentingnya memilih instrumen investasi yang legal dan diawasi regulator.

KSEI menilai pertumbuhan jumlah investor harus diimbangi dengan peningkatan kualitas literasi keuangan agar masyarakat mampu mengambil keputusan investasi secara bijak.

Karena itu, kegiatan edukasi tidak hanya membahas cara membuka rekening efek, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai perlindungan investor, keamanan transaksi, serta pengelolaan aset investasi secara transparan.

Untuk mendukung pertumbuhan investor yang terus meningkat, KSEI juga memperkuat transformasi digital melalui pengembangan berbagai layanan dan infrastruktur pasar modal.

Salah satu inovasi terbaru yang diperkenalkan adalah CORES.KSEI (Centralized Investor Data Management System).

Platform ini dirancang sebagai sistem pengelolaan data investor secara terpusat sehingga proses Know Your Customer (KYC) menjadi lebih sederhana dan efisien.

Melalui CORES.KSEI, investor tidak perlu lagi melakukan verifikasi dokumen secara berulang ketika membuka rekening efek pada lembaga jasa keuangan yang berbeda.

Selain mempermudah investor, sistem tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan akurasi data sekaligus mempercepat proses layanan di industri pasar modal.

KSEI juga mengembangkan K-CASH (KSEI Cash Management System) sebagai sistem pengelolaan dana transaksi reksa dana.

Melalui pemanfaatan Investor Fund Account Unit (IFUA), sistem tersebut menghadirkan pengelolaan dana investor yang lebih transparan, efisien, dan akuntabel.

Di sisi lain, KSEI juga terus memperkuat sistem inti pasar modal melalui C-BEST (The Central Depository and Book-Entry Settlement System).

Hingga Juni 2026, sistem tersebut mencatatkan nilai aset yang dikelola mencapai sekitar Rp7.495 triliun.

Sementara itu, platform S-INVEST yang digunakan dalam pengelolaan investasi reksa dana telah mencatatkan Asset Under Management (AUM) sebesar Rp983 triliun.

Tidak hanya memperkuat infrastruktur transaksi, KSEI juga terus mengembangkan layanan perlindungan investor melalui AKSes KSEI.

Melalui layanan tersebut, investor dapat memantau kepemilikan efek secara mandiri sehingga memberikan rasa aman terhadap aset investasi yang dimiliki.

KSEI juga menghadirkan layanan eASY.KSEI yang memudahkan investor mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) secara elektronik tanpa harus hadir secara langsung.

Menurut KSEI, seluruh inovasi tersebut merupakan bagian dari transformasi digital pasar modal Indonesia agar semakin modern, efisien, transparan, dan mudah diakses masyarakat.

Kegiatan di Semarang tidak hanya diisi dengan media gathering, tetapi juga edukasi kepada Galeri Investasi BEI, pelatihan bagi agen penjual reksa dana, hingga pertemuan bersama komunitas investor.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, KSEI berharap literasi keuangan masyarakat terus meningkat seiring bertambahnya jumlah investor baru setiap tahun.

Di sisi lain, peningkatan pemahaman masyarakat juga diharapkan mampu mengurangi risiko masyarakat terjebak investasi ilegal yang masih kerap bermunculan.

Dengan dukungan infrastruktur digital yang semakin kuat, KSEI optimistis industri pasar modal Indonesia akan semakin inklusif serta mampu menjangkau masyarakat hingga berbagai daerah di Indonesia.

Semarang pun dinilai memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat pertumbuhan investor di Jawa Tengah sekaligus menjadi daerah yang berpotensi mendorong peningkatan literasi dan inklusi pasar modal nasional.***

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.