BSSN Resmi Memulai Langkah Strategis Migrasi Menuju Kriptografi Tahan Kuantum Nasional

METROSEMARANG.COM, Depok – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia resmi menyelenggarakan rapat perdana untuk memulai langkah krusial dalam migrasi menuju sistem kriptografi tahan kuantum secara nasional.
Kegiatan penting yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan tersebut berlangsung di Auditorium dr. Roebiono Kertopati, Kantor BSSN Sawangan, Depok, Jawa Barat pada Kamis 18 Juni 2026.
Rapat ini menjadi forum konsolidasi awal untuk membangun kesamaan persepsi mengenai perlunya adopsi teknologi kriptografi baru guna menghadapi tantangan perkembangan komputasi kuantum di masa depan.
Sebanyak lebih dari seratus tiga puluh peserta dari unsur pemerintah, akademisi, pakar, komunitas, dan pelaku industri hadir mengikuti kegiatan tersebut secara hibrid dan antusias.
Tujuan utama forum ini adalah menyepakati kerangka kerja nasional serta menetapkan mekanisme koordinasi yang efektif antar elemen terkait demi mempercepat penyusunan peta jalan migrasi.
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Deputi Bidang Strategi dan Kebijakan Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Tjahjo Khurniawan, yang memimpin jalannya rapat secara sangat komprehensif.
Dalam sambutannya, Tjahjo menegaskan bahwa perkembangan komputasi kuantum memiliki potensi besar untuk mengancam algoritma kriptografi yang saat ini menjadi fondasi keamanan bagi berbagai layanan digital.
Tjahjo Khurniawan memberikan pernyataan kunci mengenai urgensi transisi teknologi ini yang mencakup berbagai aspek vital bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara di masa depan.
“Migrasi menuju Post-Quantum Cryptography tidak hanya menjadi isu teknologi, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan nasional, keberlangsungan layanan publik, kepercayaan digital, dan kedaulatan negara,” ujar Tjahjo.
Lebih lanjut, Tjahjo menjelaskan bahwa upaya migrasi kriptografi tahan kuantum membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang sangat solid dan terencana dengan matang oleh berbagai pihak.
“Migrasi kriptografi tahan kuantum membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang mencakup aspek kebijakan, tata kelola, standardisasi, industri, pengembangan SDM, hingga kerja sama internasional,” tambahnya dengan sangat tegas.
Rangkaian rapat kemudian dilanjutkan dengan sesi pembahasan mendalam mengenai dokumen Regulatory Impact Assessment serta naskah urgensi Rancangan Peraturan Presiden terkait peta jalan migrasi tersebut.
Selain membahas regulasi, para peserta juga mendapatkan paparan teknis mengenai penggunaan alat pemindaian aset kriptografi sebagai langkah awal identifikasi dan inventarisasi aset digital nasional.
Inventarisasi aset ini dianggap krusial agar pemerintah dapat memetakan sistem mana yang paling rentan terhadap ancaman komputasi kuantum sehingga bisa diprioritaskan dalam proses migrasi.
BSSN terus mendorong seluruh anggota gugus tugas nasional agar memperkuat kolaborasi, saling berbagi pengetahuan, dan membangun komitmen bersama yang kuat dalam seluruh rangkaian proses.
Komitmen bersama ini bertujuan untuk mewujudkan migrasi kriptografi tahan kuantum yang efektif guna memperkuat ketahanan siber serta senantiasa menjaga kedaulatan digital Indonesia di masa depan.
Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan BSSN dalam mengantisipasi ancaman siber masa depan yang semakin kompleks seiring dengan berkembangnya teknologi komputasi yang semakin canggih.
Seluruh pihak yang terlibat diharapkan dapat menjalankan peran masing-masing dengan penuh tanggung jawab demi memastikan transisi sistem keamanan siber nasional berjalan lancar tanpa hambatan teknis.
Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau perkembangan teknologi kuantum global agar strategi yang disusun tetap relevan dan mampu menjawab tantangan keamanan siber yang muncul nantinya.
Keberhasilan migrasi menuju kriptografi tahan kuantum akan menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan publik terhadap sistem layanan digital yang dikelola oleh instansi pemerintah maupun swasta.
Dengan kolaborasi yang solid, Indonesia optimis dapat membangun pertahanan siber yang tangguh, adaptif, dan mampu melindungi data strategis negara dari potensi ancaman kuantum di masa depan.***