Metro Semarang
Kabar Semarang Terbaru Hari Ini

Indonesia Hadapi 5,5 Miliar Serangan Siber, BSSN Soroti Bahaya AI

Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Nugroho Sulistyo Budi, saat menjadi keynote speaker dalam Diskusi Strategis yang diselenggarakan Program Studi Magister Peperangan Asimetris Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) di Sentul, Bogor, Rabu (19/8/2026).

METROSEMARANG.COM, Bogor – Ancaman serangan siber di Indonesia semakin serius seiring pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI). Sepanjang 2025, Indonesia dilaporkan menghadapi sekitar 5,5 miliar serangan siber, sementara AI kini berpotensi menjadi instrumen serangan sekaligus senjata baru dalam perang modern.

Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Nugroho Sulistyo Budi menegaskan, perkembangan teknologi telah mengubah karakter ancaman di ruang digital. Karena itu, penguatan strategi pertahanan dan literasi digital menjadi semakin penting dalam menghadapi dinamika peperangan asimetris di era AI.

Hal tersebut disampaikan Nugroho Sulistyo Budi saat menjadi keynote speaker dalam Diskusi Strategis yang diselenggarakan Program Studi Magister Peperangan Asimetris Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) di Sentul, Bogor, Rabu (19/8/2026).

Dalam paparannya, Kepala BSSN menyoroti peran ganda AI yang dapat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk melakukan serangan siber, tetapi di sisi lain juga dapat menjadi perisai dalam memperkuat sistem pertahanan.

Kondisi tersebut membuat perkembangan AI tidak lagi hanya menjadi persoalan teknologi, melainkan telah masuk dalam dimensi strategis pertahanan dan keamanan nasional.

BSSN menekankan perlunya integrasi tata kelola AI yang kuat, pengawasan manusia, serta penguatan sistem kriptografi sebagai benteng pertahanan terakhir dalam menghadapi ancaman digital yang semakin kompleks.

Penguatan keamanan siber juga harus ditopang kolaborasi multipihak dan regulasi yang kokoh. Pemerintah, sektor swasta, akademisi dan masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam membangun ketahanan ruang siber nasional.

“Ketergantungan digital di seluruh sendi kehidupan harus diimbangi dengan pengamanan infrastruktur kritis agar kekuatan ruang siber kita tidak berbalik menjadi kerentanan strategis bangsa,” tegas Kepala BSSN.

Peringatan tersebut menjadi relevan di tengah tingginya aktivitas serangan siber yang terus mengintai Indonesia.

Sepanjang 2025, Indonesia dilaporkan menghadapi sekitar 5,5 miliar serangan siber.

Lonjakan ancaman tersebut menunjukkan ruang digital kini telah menjadi salah satu medan strategis yang harus mendapat perhatian serius.

Ancaman tidak hanya menyasar individu, tetapi juga berpotensi menyerang sistem pemerintahan, layanan publik, sektor ekonomi, infrastruktur kritis hingga kepentingan pertahanan negara.

Perkembangan AI membuat pola serangan juga berpotensi menjadi lebih cepat, masif dan sulit dideteksi apabila teknologi tersebut dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Sebaliknya, AI juga dapat menjadi bagian dari sistem pertahanan melalui kemampuan mendeteksi anomali, mengidentifikasi pola ancaman dan membantu respons terhadap serangan siber.

Karena itu, BSSN mendorong pengembangan teknologi AI tidak dilepaskan dari tata kelola yang bertanggung jawab.

Pengawasan manusia tetap menjadi bagian penting agar keputusan strategis, khususnya yang berkaitan dengan keamanan nasional dan pertahanan, tidak sepenuhnya bergantung pada sistem otomatis.

Selain tata kelola AI, sistem kriptografi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat pertahanan siber.

Kriptografi berfungsi menjaga kerahasiaan, integritas dan keamanan informasi digital yang semakin vital di tengah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap teknologi.

Ketergantungan digital kini telah masuk ke hampir seluruh sendi kehidupan, mulai dari transaksi ekonomi, komunikasi, pelayanan publik, pendidikan hingga pengelolaan infrastruktur strategis.

Namun, semakin besar ketergantungan terhadap teknologi digital, semakin besar pula potensi kerentanan yang harus dihadapi apabila sistem keamanan tidak diperkuat.

BSSN mengingatkan bahwa kekuatan ruang siber justru dapat berubah menjadi kerentanan strategis apabila pengamanan infrastruktur kritis tidak dilakukan secara serius.

Di tengah situasi tersebut, literasi digital masyarakat juga menjadi salah satu lapisan pertahanan penting.

Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai ancaman digital, seperti phishing, pencurian data, penipuan daring hingga penyalahgunaan teknologi AI.

Kolaborasi antara pemerintah, lembaga keamanan siber, dunia pendidikan, industri dan masyarakat menjadi kunci untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang.

Melalui penguatan teknologi, sumber daya manusia, regulasi dan kesadaran digital, Indonesia diharapkan mampu membangun ruang siber yang lebih berdaulat, aman dan tangguh.

Pesan tersebut juga kembali ditekankan BSSN melalui akun Instagram resminya, @bssn_ri, dengan ajakan kepada masyarakat untuk bersama-sama memperkuat literasi digital dan menjaga ruang siber nasional demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat, aman dan tangguh di era digital.***

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.