Jelang World Rabies Day, Mirjawal Ajak Masyarakat Waspadai Rabies

METROSEMARANG.COM, Yogyakarta – Menjelang World Rabies Day 2026 yang diperingati setiap 28 September, Ketua PDHI Cabang Jawa Barat V sekaligus Calon Ketua Umum PB PDHI, drh. Mirjawal, M.M., mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap rabies.
Ia mengingatkan masyarakat untuk mengenali perubahan perilaku hewan yang berpotensi menularkan rabies serta segera mendapatkan pertolongan medis setelah mengalami gigitan atau cakaran.
Pesan tersebut disampaikan Mirjawal di sela-sela Vetnovex 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Sabtu-Minggu, 12-13 September 2026.
Perusahaan yang dipimpin Mirjawal, PT Awal Semangat Karya Medika (ASK Medika), turut berpartisipasi dalam pameran yang digelar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM tersebut.
Menurut Mirjawal, rabies menjadi salah satu contoh bahwa kesehatan manusia dan hewan tidak bisa ditangani secara terpisah.
“Ketika satu mata rantai tidak berfungsi, mulai dari vaksinasi, pelaporan kasus, diagnosis, hingga penanganan korban gigitan, akibatnya dapat sangat serius,” kata Mirjawal.
Rabies sebenarnya dapat dicegah. Namun, penyakit tersebut hampir selalu berakibat fatal ketika gejala klinis sudah muncul.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menunda penanganan setelah digigit atau dicakar anjing, kucing, monyet, maupun hewan lain yang berpotensi menularkan rabies.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera mencuci luka menggunakan sabun dan air mengalir selama sedikitnya 15 menit.
Setelah itu, luka dapat diberi antiseptik. Korban juga perlu segera mendatangi puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan penilaian medis dan vaksin antirabies atau penanganan lain sesuai indikasi tenaga kesehatan.
“Jangan menunggu luka terasa sakit atau muncul gejala. Segera cuci luka dan datang ke fasilitas kesehatan. Penanganan yang cepat dapat menyelamatkan nyawa,” ujarnya.
Kenali Perubahan Perilaku Hewan
Mirjawal juga mengingatkan masyarakat agar mengenali perubahan perilaku pada hewan yang dicurigai terinfeksi rabies.
Hewan dapat tiba-tiba menjadi agresif tanpa sebab, mengeluarkan air liur berlebihan, sulit menelan, berjalan sempoyongan hingga mengalami kelumpuhan.
Namun, tidak semua hewan terduga rabies menunjukkan perilaku agresif.
Sebagian hewan justru dapat terlihat sangat diam, bersembunyi, atau mengalami kondisi lemah.
Masyarakat diminta tidak menangkap maupun menangani sendiri hewan yang dicurigai rabies.
Anak-anak dan hewan lain sebaiknya dijauhkan dari lokasi. Selanjutnya, masyarakat dapat melaporkan temuan tersebut kepada dinas yang membidangi kesehatan hewan atau petugas berwenang.
Kepastian mengenai rabies tetap membutuhkan pemeriksaan oleh petugas terkait.
World Rabies Day Bukan Sekadar Seremonial
Mirjawal menilai momentum World Rabies Day tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Peringatan tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat vaksinasi hewan penular rabies, edukasi masyarakat, surveilans, layanan kesehatan, hingga sistem pelaporan kasus yang cepat.
Sebagai salah satu langkah nyata, pada September 2026 PDHI Cabang Jawa Barat V menghadirkan program vaksinasi rabies gratis bagi masyarakat Bekasi.
Informasi mengenai pelaksanaan program tersebut dapat dilihat melalui akun Instagram @pdhi.jabar5.
“Pengendalian rabies harus diwujudkan melalui tindakan yang langsung dirasakan masyarakat. Vaksinasi melindungi hewan sekaligus menjaga keluarga dan lingkungan di sekitarnya,” kata Mirjawal.
Ia menilai data kasus gigitan, status vaksinasi hewan, hasil pemeriksaan laboratorium, serta kasus rabies pada manusia perlu dihubungkan.
Dengan begitu, tindakan penanganan dapat diarahkan lebih cepat ke wilayah yang memiliki risiko lebih tinggi.
“Data harus menjadi peta risiko, peringatan dini, dan dasar pengambilan keputusan,” ujarnya.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari visi Mirjawal untuk menjadikan PDHI sebagai rumah profesi sekaligus pusat ekosistem veteriner Indonesia.
Menurutnya, tantangan utama bukan membangun satu lembaga yang menguasai seluruh persoalan, tetapi menciptakan sistem yang mampu menghubungkan berbagai pihak agar bergerak cepat sesuai fungsi masing-masing.
Sistem tersebut juga dinilai penting untuk menangani persoalan lain, seperti penyakit zoonosis, karhutla, kesehatan satwa liar, keamanan pangan, hingga perubahan lingkungan.
“Seluruh persoalan tersebut memperlihatkan bahwa kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan tidak dapat dipisahkan,” katanya.
Ia menegaskan, pengendalian rabies membutuhkan keterlibatan dokter hewan, tenaga kesehatan, pemerintah, laboratorium, perguruan tinggi, organisasi profesi, komunitas, dan masyarakat.
“Pengendalian rabies menjadi ujian nyata bagi ekosistem veteriner Indonesia. Melalui edukasi, vaksinasi, pelaporan cepat, dan kolaborasi lintas sektor, kita dapat melindungi hewan sekaligus menyelamatkan manusia,” tutup Mirjawal.***