Produktivitas Padi Jadi Sorotan, BI dan Kemenko Pangan Luncurkan Pedoman CSA–Biochar

METROSEMARANG.COM, Semarang, – Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, dan Universitas Diponegoro meluncurkan Buku Pedoman Implementasi Model Bisnis Pertanian Berkelanjutan Berbasis Teknologi Climate Smart Agriculture (CSA)–Biochar.
Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat produktivitas padi nasional sekaligus menjawab tantangan ketahanan pangan Indonesia di tingkat regional.
Kementerian Koordinator Bidang Pangan mencatat, posisi ketahanan pangan Indonesia di kawasan ASEAN masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga. Berdasarkan pemeringkatan regional, Indonesia berada di peringkat keempat setelah Singapura, Malaysia, dan Vietnam.
Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Tanaman Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kus Prisetiahadi, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi Indonesia. Ia menegaskan, peningkatan produktivitas pertanian merupakan kunci utama untuk memperkuat kemandirian dan kedaulatan pangan nasional.
“Ini menjadi tantangan besar bagi kita. Indonesia masih kalah dalam hal produktivitas, khususnya tanaman pangan seperti padi,” ujar Kus dalam peluncuran buku pedoman CSA–Biochar yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah di Hotel Padma Semarang, Senin (9/2).
Menurutnya, produktivitas padi nasional saat ini rata-rata masih berada di kisaran lima ton per hektare. Angka tersebut tertinggal jauh dibandingkan Vietnam dan Malaysia yang mampu mencapai hingga 10 ton per hektare. Kesenjangan produktivitas ini berdampak langsung terhadap daya saing sektor pertanian dan kesejahteraan petani.
“Jika produktivitas dapat ditingkatkan dari lima ton menjadi tujuh, sembilan, bahkan sepuluh ton per hektare, maka secara sistemik kesejahteraan petani juga akan ikut meningkat,” jelasnya.
Meski demikian, Kus menambahkan bahwa secara ketersediaan pangan nasional, Indonesia sebenarnya telah berada pada level aman. Berdasarkan standar Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), pemenuhan kebutuhan pangan sebesar 90 persen sudah dapat dikategorikan sebagai swasembada.
“Indonesia saat ini bahkan telah melampaui angka tersebut. Cadangan pangan di hulu tersedia, produksi gabah juga melebihi kebutuhan. Artinya, secara nasional kita sudah mencukupi,” imbuhnya.
Peluncuran buku pedoman CSA–Biochar ini menjadi bagian dari upaya mendorong inovasi pertanian berkelanjutan. CSA–Biochar memanfaatkan biochar, material kaya karbon hasil pirolisis limbah biomassa, sebagai pembenah tanah. Teknologi ini dinilai mampu memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan daya simpan air, mengefisienkan penggunaan pupuk, serta menurunkan emisi gas rumah kaca.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah dalam sambutannya menyampaikan bahwa Jawa Tengah memiliki peran strategis dalam mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya target swasembada pangan.
“Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi produksi, dan kesejahteraan petani,” katanya.
Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Kurniawan Agung, secara resmi meluncurkan buku pedoman tersebut dan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi dalam implementasi pertanian berkelanjutan berbasis teknologi rendah emisi.
Diseminasi buku pedoman dilanjutkan melalui sesi talkshow yang menghadirkan narasumber dari Bank Indonesia, Kementerian Pertanian, serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro. Diskusi ini membahas rencana penguatan program percontohan CSA–Biochar di Jawa Tengah sebagai respons terhadap tantangan perubahan iklim.
Kolaborasi pengembangan model bisnis pertanian berkelanjutan berbasis CSA–Biochar telah dimulai sejak 2025, salah satunya melalui proyek percontohan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Hasilnya menunjukkan peningkatan produktivitas padi sebesar 6,3 persen, disertai perbaikan kualitas tanah dan efisiensi penggunaan input pertanian.
Ke depan, buku pedoman ini diharapkan menjadi acuan nasional untuk memperluas penerapan CSA–Biochar di berbagai daerah, guna memperkuat ketahanan pangan Indonesia dan meningkatkan daya saing pertanian di tingkat ASEAN.